Kenapa Masih Gundah-gulana Jika Ada Yuk Keep Smile?

Bisa dibilang akhir tahun ini merupakan salah satu momen persimpangan yang paling berkabut untuk saya. Banyak temen yang mewanti-wanti ini akan menjadi salah satu bagian perjalanan tergalau. Galau saat nyari kerja, atau mau S2 atau jadi abdi negara atau bahkan nyari... ya well-you-know... Katanya akan ada banyak hal yang remang-remang dan ga logis yang harus dilalui. Namun, di balik itu akhir-akhir ini juga sedang heboh sebuah acara TV yang keliatan ga logis tapi menyenangkan. Apa hubungan 2 hal tersebut? Bagaimana kalo dua hal ga logis itu: acara TVdan gundah gulana itu adalah cara Allah memberi petunjukNya biar kita ga sering-sering galau? Hah?

Mulai dari Ramadhan kemarin, secara brilian Trans TV mengeluarkan sebuah acara yang diberi judul Yuk Kita Sahur, sebuah awalan dari acara dengan singkatan yang persis sama, Yuk Kita Smile (YKS). Acara yang menjadi inspirasi tulisan ini. Acara ini punya konsep aneh dan kalau mau sedikit baik bisa dibilang menarik. Intinya ada sesosok orang yang bernama Caisar. Dia menciptakan sebuah tarian, goyang Caisar, yang akan diikuti ribuan (ini beneran lho) peserta. Semakin tepat peserta itu mengikuti goyang Caisar, semakin besar kesempatan mereka mendapatkan uang 1 juta rupiah. Meh, bagaimana cara menilai ketepatan ribuan oyang yang joget bersama? Logika penonton pun dipermainkan di sini. Untuk dijadikan pertimbangan bersama, para peserta selalu terlihat senang.

Dua hal terakhir lah yang bisa menjadi pembeda suasana hati kebanyakan orang; uang dan rasa senang. Terutama terkait pekerjaan. Hal terakhir merupakan tantangan utama bagi sarjana segar seperti saya. Kami  (atau sebenarnya semua orang) seperti berdiri di jungkat-jungkit antara uang dan kesenangan. Maksud saya, setelah mengamati dengan seksama dan mengobrol dari hati ke hati dengan teman-taman sesama fresh grad yang akhirnya mereka dapat pekerjaan, sering kali mereka dihadapkan untuk memilih salah satu keping mata uang kehidupan. Sisi pertama adalah mencari pekerjaan yang menyenangkan bagi mereka, bisa dalam bentuk sesuai passion masing-masing atau sesuai cita-cita. Sementara di sisi koin yang lain adalah sering kali pekerjaan jenis ini tidak menghasilkan uang sebanyak perkerjaan yang lebih tidak mereka sukai. Kondisi yang lebih sering ditemui adalah pekerjaan yang tersedia menuntut mereka menghabiskan kehidupan mereka di kantor.

Akan tetapi, seburuk-buruknya sebuah acara TV pasti memiliki hal positif yang bisa diambil. Apa sebetulnya kabar baik yang bisa kita ambil dari YKS itu? Walaupun dipenuhi ketidakjelasan, YKS mengajarkan setidaknya dua hal tentang kerja keras dan rasa syukur. Pertama, para peserta YKS harus menemukan cara (walaupun lebih sering cara yang tidak masuk akal) agar bisa dipilih oleh Caisar. Mereka berdandan maksimal, menari dengan penghayatan berlebihan, menari berpasangan (bahkan ada yang sekeluarga memakai kostum seragam). Artinya, kesuksesan dan keberuntungan adalah bayangan dari kerja keras.

Peserta YKS memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan 1 juta rupiah dengan melakukan kerja keras. Kebahagiaan akan mereka dapatkan tentunya setelah kerja keras terbayar. Hal bagus lain dari YKS adalah seharusnya para sarjana muda itu bersykur karena belum harus melakukan hal-hal anes seperti para peserta YKS. Mereka memiliki banyak skill dan terutama jaringan untuk lebih baik dari itu. Perguruang tinggi memberikan banyak kesempatan untuk jauh lebih baik dari para penyanyi musiman YKS itu.

So, jikapun para sarjana harus menggalau karena belum mendapatkan pekerjaan seharusnya mereka bisa menang di YKS dengan mudah. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What can we do? Community League??

Neuer: Calon Kiper Terbaik (MU) Masa Depan?