Apa Salah Gervinho?

Tenang saja, artikel ini tidak membahas lebih lanjut mengenai keunikan tampang pemain asal Pantai Gading ini. Saya hanya berusaha untuk berpikir dengan jernih (setelah perut diisi dengan banyak santan tentunya) agar bisa melihat banyak kelebihan-kelebihan (dan kekurangan-kekurangan) pemain berusia 26 tahun ini serta menjawab pertanyaan penting tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan seorang striker yang sebelumnya juara liga Perancis namun malah memperlihatkan performa buruk selama di Arsenal. Apa yang salah dengan Gervinho?

Dua tahun yang lalu, Arsenal membeli Gervinho dari tim Perancis Lille dan dengan bangganya Arsene Wenger mengumumkan kedatangannya: "He has qualities that I find very important. I think he is a very good addition to the squad." Mungkin detail yang tidak dilihat para wartawan saat itu adalah Wenger menyilangkan jarinya. Sayangnya, jumat (19/8) kemarin resmi diumumkan penjualan Gervinho ke Roma.

Tahun terakhir di Lille (musim 2010-2011) merupakan masa yang sangat indah bagi Gervinho terutama karena berhasil membawa tim utara Perancis itu merengkuh gelar Liga Perancis. Gelar yang terakhir kali diraih tahun 1954. Torehan 15 gol dan 10 asis menempatkannya diantara elit pesepakbola Eropa musim itu karena hanya 8 pemain yang mampu membukukan dobel digit untuk jumlah gol dan asis (Tabel 1). Jelas masa-masa kesalahan Gervinho bukan di Lille, mungkin di Arsenal?

Tabel 1. Kehebatan Gervinho Diantara Elit Pesepakbola Eropa Musim 2010-2011
Player
Team
Goals
Assists
Total
Ronaldo
Real Madrid
40
11
51
Messi
31
18
49
Gervinho
Lille
15
10
25
Ibrahimovic
Milan
14
11
25
Müller
FC Bayern München
12
11
23
Drogba
11
13
24
Rooney
Manchester United
11
11
22
Vidal
Bayer 04 Leverkusen
10
11
21

Musim pertama pemain yang bernama lengkap Gervais Lombe Yao Kouassi ini sangat tidak gemilang. Masalahnya adalah start yang sangat buruk. Pemain yang sempat membela klub Belgia ini mungkin tidak pernah mendengar ungkapan filsuf Yunani, Plato tentang betapa pentingnya awal yang baik: "The beginning is the most important part of the work". Dengan sukses, dia menghancurkan debut Liga Inggrisnya saat melawan Newcastle atau lebih tepat saat berani-beraninya melawan si bengal Joey Barton.

Setelah diskors selama 3 pertandingan, Gervinho bermain di total 28 pertandingan liga Inggris dan hanya berhasil mencetak 4 gol dan 5 asis untuk Arsenal. Torehan yang sangat jauh dibanding musim terakhirnya di Lille. Penampilan yang buruk pun merambat ke performanya di tim nasional Pantai Gading. Di final Piala Afrika 2012 melawan Zambia, adu penalti harus dilakukan dan pemain bernomor punggung 10 ini sukses menendang bola ke bangku penonton. Musim 2011-2012 sungguh menjadi musim yang berat baginya.

Hal yang harus dikritisi di sini adalah dimana peran Wenger? Pemain yang sebelumnya bermain gemilang dan melakukan sedikit kecerobohan di debutnya terlihat tidak mendapat cukup dukungan. Tidak ada penguatan karakter yang menjadi peran penting seorang pelatih. Sangat kontras jika dibandingkan dengan efek pelatih-pelatih top lain seperti Fergie terhadap Ronaldo atau hubungan Guardiola dengan para pemain mudanya.

Ronaldo yang di waktu awal bergabung dengan MU banyak dicemooh sebagai banci step over, berhasil ditransformasi oleh Fergie menjadi pemain terbaik dunia. Begitu juga dengan Pep Guardiola yang mengambil peran serupa dengan menyuntikkan kearakter pemenang terutama pada para pemain mudanya. Namun sayangnya, Gervinho yang masuk ke dalam jurang kegelapan seakan-akan hanya dipantau dari ujung tebing oleh pelatihnya.

Musim terakhir Gervinho di Arsenal berjalan lebih buruk lagi. Gervinho kalah saing dengan wonderkid Chamberlain serta pemain-pemain anyar Podolski dan Giroud. Di musim ini, Wenger terlihat sudah tidak percaya lagi dengan Gervinho. Total Gervinho hanya bermain di 18 pertandingan Liga Inggris. Jumlah penampilan yang sangat sedikit dibandingkan dengan Podolski (33 pertandingan), Giroud (34 pertandingan) atau bahkan Chamberlain (25 pertandingan).

Gervinho memang sempat menderita cedera mata kaki yang mengharuskannya istirahat selama 3 minggu di akhir tahun 2012. Namun, sekali lagi peran Arsene Wenger yang lebih memilih solusi instan dengan mendatangkan  pemain baru yang memiliki posisi yang sama dengan Gervinho patut dipertanyakan. Setelah di tinggal sendirian dalam jurang kegelapan, Gervinho dihadiahi serigala pemangsa manusia oleh Wenger.

Jelas bagi saya bahwa dalam hal permainan, tidak ada yang salah dengan Gervinho. Debut yang sangat brutal dan kurangnya dukungan dari Wenger menjadi faktor utama meredupnya talenta pemain ini. Semoga di "tim serigala" AS Roma sekaligus reuni dengan Rudi Garcia bisa membuat Gervinho kembali bersinar!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What can we do? Community League??

Neuer: Calon Kiper Terbaik (MU) Masa Depan?