Arsenal: Ilusi Tanpa Gelandang Bertahan Murni
Artikel ini juga dipublikasikan di bolatotal.com
Di pertandingan melawan Aston Villa kemarin, Arsenal gagal total dalam meredam serangan lawan. Mereka hanya berhasil melakukan 10 kali tekel, jumlah yang sangat minim dibandingkan dengan Aston Villa yang berhasil melakukan tekel dua kali lebih banyak (Gambar 1). Bahkan, di lapangan tengah yang menjadi pusat permainan, ternyata hanya dua kali tekel yang berhasil dilakukan pemain Arsenal. Pantas saja serangan balik Aston Villa benar-benar memporak-porandakan pertahanan Arsenal.
Pada kondisi normal, Arteta biasa menjadi ksatria pengemban tugas mulia sebagai peredam serangan lawan. Namun, karena pemain Spanyol itu dihantam cedera dan sesuai filosofinya, Wenger berharap Aaron Ramsey dan Jack Wilshere bisa secara kolektif berperan sebagai gelandang bertahan. Masalahnya, mereka tidak memiliki kemampuan tekel yang baik. Lihat saja gol pertama tim asuhan Paul Lambert. Dengan mudahnya Agbonlahor menghindari tekel Wilshere dan Ramsey sehingga langsung berhadapan dengan Koscielny dan Szczesny yang akhirnya dengan terpaksa harus menjatuhkan Agbonlahor di daerah terlarang.
Jika dilihat lebih jauh lagi, kemampuan bertahan gelandang Arsenal di pertandingan kemarin memang tidak ada bagus-bagusnya. Sepanjang pertandingan, Wilshere hanya berhasil melakukan 2 kali tekel walaupun Ramsey menunjukkan statistik yang lebih baik dengan sukses merebut 4 kali penguasaan bola lawan (Gambar 2). Akan tetapi, performa duo gelandang Arsenal itu lebih buruk dibanding lawan mereka. Karim El Ahmadi dan Fabian Delph yang secara total berhasil melakukan 9 kali tekel. Dari sini terlihat dengan jelas, penyebab utama Aston Villa sampai mendapatkan dua kali tendangan penalti adalah Wilshere dan Ramsey tidak bisa merebut bola sehingga pemain belakang Arsenal harus melakukan penyelamatan darurat bukan karena keputusan wasit yang salah.
Kegagalan revolusi gelandang bertahan Arsenal semakin terlihat di gol kedua dan ketiga Aston Villa. Gol kedua Aston Villa terjadi setelah Agbonlahor berhasil merebut bola dari Rosicky yang sedang bermain lebih ke belakang. Seperti gol pertama, dengan cepat Agbonlahor menggiring bola langsung menuju ke gawang Arsenal dan berhadapan dengan Koscielny (Gambar 3). Setelah itu, pemain asal Perancis itu hanya bisa menjalankan tugasnya yaitu mencegah Agbonlahor mencetak gol walaupun harus berbuah penalti. Hal yang menarik di sini adalah ketidakmampuan Wilshere dan Rosicky menerapkan ide Wenger, tentang semangat kolektifitas untuk membantu pertahanan saat diserang atau memang sedari awal yang salah adalah ide Wenger itu sendiri.
Dibalik semua itu, terdapat sisi positif keruntuhan gagasan Wenger ini. Akhirnya, Arsenal berhasil memecahkan sebuah rekor. Kekalahan dengan skor 1-3 kemarin, menjadi kekalahan pertama mereka sekaligus yang paling buruk di laga pembuka Liga Inggris untuk 20 tahun terakhir. Pencapaian sensasional itu dibantu oleh Aston Villa (jelas bukan karena wasit) yang berhasil mengeksploitasi kelemahan mendasar tim utara London itu; ilusi tingkat tinggi tentang tim yang bermain tanpa gelandang bertahan murni.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa pendapat para pembaca? Apakah Arsenal harus terus bermain tanpa gelandang bertahan?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
There are no defensive midfielder players at the moment. We try to find the defensive balance collectively and more versatile going forward because everyone has the potenstial to go forwardArsene Wenger merupakan pelatih yang percaya era keemasan gelandang bertahan murni telah usai. Inilah sebabnya Arsenal melepas Alexander Song, Denilson dan Francis Coquelin yang memiliki posisi natural sebagai gelandang bertahan. Namun, hasil buruk laga pembuka Arsenal kemarin memperlihatkan ide Wenger mengenai gelandang bertahan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Di pertandingan melawan Aston Villa kemarin, Arsenal gagal total dalam meredam serangan lawan. Mereka hanya berhasil melakukan 10 kali tekel, jumlah yang sangat minim dibandingkan dengan Aston Villa yang berhasil melakukan tekel dua kali lebih banyak (Gambar 1). Bahkan, di lapangan tengah yang menjadi pusat permainan, ternyata hanya dua kali tekel yang berhasil dilakukan pemain Arsenal. Pantas saja serangan balik Aston Villa benar-benar memporak-porandakan pertahanan Arsenal.
| Gambar 1. Statistik Jumlah Tekel Arsenal vs Aston Villa. |
Jika dilihat lebih jauh lagi, kemampuan bertahan gelandang Arsenal di pertandingan kemarin memang tidak ada bagus-bagusnya. Sepanjang pertandingan, Wilshere hanya berhasil melakukan 2 kali tekel walaupun Ramsey menunjukkan statistik yang lebih baik dengan sukses merebut 4 kali penguasaan bola lawan (Gambar 2). Akan tetapi, performa duo gelandang Arsenal itu lebih buruk dibanding lawan mereka. Karim El Ahmadi dan Fabian Delph yang secara total berhasil melakukan 9 kali tekel. Dari sini terlihat dengan jelas, penyebab utama Aston Villa sampai mendapatkan dua kali tendangan penalti adalah Wilshere dan Ramsey tidak bisa merebut bola sehingga pemain belakang Arsenal harus melakukan penyelamatan darurat bukan karena keputusan wasit yang salah.
| Gambar 2. Jumlah Tekel Gelandang Arsenal vs Aston Villa. |
![]() |
| Gambar 3. Cuplikan Gol Kedua Arsenal vs Aston Villa |
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa pendapat para pembaca? Apakah Arsenal harus terus bermain tanpa gelandang bertahan?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Komentar
Posting Komentar