Hey Moyes, Win Like Fergie's Boys!
Tulisan ini dipublikaskan juga di bolatotal
Kekalahan Manchester United akhir pekan kemarin melawan musuh bebuyutan mereka akan selalu menjadi topik hangat pembicaraan. Fans Setan Merah berharap kemenangan di setiap laga sedangkan David Moyes terlihat sedang kerja keras untuk beradaptasi. Pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya terjadi di Anfield? Manchester United yang memang bermain selayaknya juara liga Inggris walaupun akhirnya kalah? Atau sebenarnya United sedang dalam proses Evertonisasi menjadi tim medioker?
Kekalahan Manchester United akhir pekan kemarin melawan musuh bebuyutan mereka akan selalu menjadi topik hangat pembicaraan. Fans Setan Merah berharap kemenangan di setiap laga sedangkan David Moyes terlihat sedang kerja keras untuk beradaptasi. Pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya terjadi di Anfield? Manchester United yang memang bermain selayaknya juara liga Inggris walaupun akhirnya kalah? Atau sebenarnya United sedang dalam proses Evertonisasi menjadi tim medioker?
Jika diamati dengan teliti, sebetulnya ada kesamaan gaya bermain antara Sir Alex Ferguson dan David Moyes. Tim mereka memperlihatkan pola tipikal klub britania yang sangat mengandalkan umpan silang dari sisi sayap. Musim lalu, Everton saat masih ditukangi Moyes menjadi tim urutan ketiga paling banyak (Gambar 1) melakukan umpan silang (26 kali per pertandingan), hanya kalah dari Reading dan West Ham (27 kali per pertandingan). Sementara itu, United di tahun terakhir era Fergie secara umum melakukan 25 kali umpan silang tiap pertandingan, berada tepat di bawah Everton. Bisa dilihat bahwa filosofi sepak bola Moyes dan Fergie tidak jauh berbeda.
![]() |
| Gambar 1. Peringkat Tim Berdasarkan Umpan Silang Musim 12/13. |
Hal yang menarik adalah di pertandingan melawan Liverpool kemarin, United melakukan umpan dari sayap sebanyak 32 kali jauh lebih banyak dibandingkan lawannya yang hanya melakukan 5 kali dan juga dari rata-rata musim lalu mereka yang hanya 25 kali. Masalahnya, dengan melakukan crossing sebanyak itu United tidak bisa mendapatkan satu gol pun di Anfield. Mungkin kesalahan bukan terletak pada ide Moyes melainkan implementasi dan para eksekutornya. Saya pribadi masih tidak habis pikir mengapa Moyes lebih memilih Valencia dibanding Giggs sebagai starter?
Di pertandingan kemarin, pemain asal Wales itu bermain hingga menit 73. Diberikan waktu sebanyak itu oleh Moyes, Giggs menunjukkan bahwa dia memang sudah tua. Pemain yang sudah berumur 39 tahun itu hanya melakukan 6 kali umpan silang (bahkan 2 kali dari tendangan sudut) dan hanya dua kali berhasil (Gambar 2). Belum lagi, eksekusi peran inverted winger Giggs yang amburadul. Dia terlihat kesulitan untuk melakukan penetrasi dari daerah sayap ke dalam sehingga sering terlihat terpaksa melakukan umpan silang dengan kaki kanan.
| Gambar 2. Diagram Umpan Silang Giggs vs Liverpool. |
Sementara itu, Ashley Young di pertandingan kemarin kembali dipasang di posisi naturalnya sebagai sayap kiri. Namun, dia lebih sering terlihat membawa bola ke arah gawang De Gea dibanding Mignolet. Lihat saja penyebab tendangan pojok yang akhirnya berbuah gol satu-satunya Liverpool. Lebih jauh lagi, performa Young dalam mendukung evertonisasi Moyes harus dipertanyakan. Efektifitas umpan silang Young jauh lebih buruk dibanding Giggs (Gambar 3). Tidak ada umpan silang open play dari Young yang sukses ke teman satu timnya. Satu-satunya crossing yang berhasil berasal dari tendangan sudut. Wajar saja bila semua pendukung United bergembira ketika akhirnya Nani masuk menggantikan Young di menit 63.
| Gambar 3. Diagram Umpan Silang Young vs Liverpool. |
Dari uraian di atas, terlihat bahwa umpatan fans MU seperti: "Hey Moyes play like Fergie's boys!" harus direvisi karena toh MU memang bermain seperti MU meskipun kalah. Bahkan, United di bawah Moyes semakin intens melakukan umpan silang. Lebih tepat jika para fans MU mengumpat: Hey Moyes, just WIN like Fergie's Boys!

Komentar
Posting Komentar