Cipayung Butuh Kolaborasi Sport Science

Artikel ini merupakan salah satu tugas dari Pelatihan Bulutangkis Jurnalistik Mahasiswa yang saya ikuti pada Mei 2013.
----

“Edmund Hillary berhasil menjadi orang pertama yang mendaki gunung Everest karena ada kolaborasi dengan pemandunya asal Nepal, Tenzing Norgay. Untuk memajukan Bulu tangkis pun dibutuhkan kolaborasi semua pihak,”  ujar ketua umum PB PBSI Gita Wiryawan saat membuka acara Pelatihan Jurnalistik Bulutangkis Mahasiswa di Pelatnas Cipayung Sabtu (11/5). Kolaborasi banyak pihak juga sangat dibutuhkan dalam teknis peningkatan performa atlet salah satunya lewat sport science.
Sport science di Cipayung masuh sebatas ruang ang kosong

Sport science sangat penting karena dengan menggabungkan antara ilmu pengetahuan dan teknis kepelatihan dapat meningkatkan performa atlet secara lebih efisien. “Misalnya pengalaman saya di Malaysia, ketika Chong Wei sedang latihan ada seseorang yang membuat rekaman  video dia berlatih lalu setelah itu tim pelatih bisa mengevaluasi dan mempersiapkan latihan yang tepat,” ujar Kepala Bidang Pengembangan & Prestasi PBSI, Rexy Mainaky ditengah-tengah latihan persiapan Sudirman Cup Sabtu (11/5).
Masalahnya ternyata saat ini belum ada penerapan sport science di Cipayung. “Justru sport science ini belum terbentuk (di Pelatnas-red). Saya sudah berbicara dengan bidang pengembangan, sport science itu harus ada,” Rexy menambahkan.
Rencananya pengembangan sport science di Pelatnas akan difokuskan untuk mengevaluasi performa atlet. “Kami lebih banyak membutuhkan analisis performa atlet berdasarkan video. Contohnya kami ingin mengetahui lawan paling sering dapat poin dari mana apakah dropshot, netting atau yang lain. Contoh lain adalah analisis Biomekanik seperti analisa pukulan pemain apakah timingnya pas, pengenaannya pas untuk meningkatkan kemampuan teknik atlet,” jelas Rexy.
Rexy juga menekankan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan untuk mengembangkan sport science ini. “Pengembangan sport science ini membutuhkan kolaborasi banyak pihak seperti ahli gizi, pelatih fisik, ahli teknologi, pelatih dan pemain. Contohnya, di sini pelatih fisik hanya 1 orang padahal dia menangani 85 atlet atau bukan hanya di Pelatnas ini namun juga harus dari bawah mulai dari pengembangan di daerah atau klub,” terang Rexy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What can we do? Community League??

Neuer: Calon Kiper Terbaik (MU) Masa Depan?